Hebbi's Story
Jumat, 06 Desember 2013
stress kerja - Manajemen Sumber daya manusia
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Puji Syukur atas kehadiran Allah
SWT. Yang telah memberikan segala kesehatan untuk saya sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini sebagai tugas pengganti ujian tengah semester. Juga
sholawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW.
Terimakasih juga saya sampaikan
kepada Bapak Dr. Achmad Sani Supriyanto, SE,. M.Si yang telah membimbing
perkuliahan dengan baik. Juga berterimakasih kepada teman-teman yang banyak
membantu juga menemani dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini diselesaikan dengan harapan
dapat membantu memahami lebih detail mengenai stres kerja dan cara
menghindarinya. Stres kerja merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh para
karyawan, jadi sebelum terjadi alangkah lebih baik apabila mampu meminimalisir.
Sempurna adalah suatu hal yang sangat
sulit untuk dicapai, maka dari itu saya yakin makalah ini pastilah masih jauh
dari itu. Apabila ada kritik saran membantu pastilah kami akan sangat senang
menerimanya. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan yang disengaja ataupun
tidak. Terimakasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
Malang
12 April 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Salah
satu masalah paling serius yang menimpa organisasi adalah masalah steres.
Menurut Ray (1991) kepustakaan mengenai stres yang berkaitan dengan pekerjaan
secara ajeg menunjukkan bahwa stres menimbulkan pengaruh yang merusak dan
berbahaya bagi kesehatan jasmani dan rohani para pekerja. Heaney dan Van Ryn
(1990) menjelaskan bahwa sttres okupasional berkaitan dengan efek jangka pendek
seperti kecemasan kerja, ketegangan kerja, dan kepuasan kerja, dan efek jangka
panjang seperti depresi, borok, penyakit kardiovaskular dan kematian.[1]
Organisasi
menaruh perhatian pada stres karena beberapa alasan. Organisasi benar-benar
bertanggung jawab sebagian atas kenyataan bahwa mereka sungguh menciptakan
sebagian dari stres ini. Mereka khawatir karena klaim asuransi atas penyakit
yang berkaitan dengan stres telah menjadi pengeluaran utama bagi sebagian besar
perusahaan. Selain itu jumlah klaim-klaim tersebut semakin meningkat. Stres
secara langsung juga berdampak pada kinerja para pekerja dan kinerja organisasi
secara keseluruhan.
Stres
digambarkan berada pada tingkat epidemik dan bukan hanya fenomena di amerika.
Tujuh persen angkatan kerja di Finlandia diperkirakan mengalami stres berat.
Biaya tinggi karena stres secara global semakin meningkat.[2]
Pengalaman
stres dalam kehidupan kerja dan kehidupan pribadi bukanlah hal yang baru. Nenek
moyang kita menghadapi stres setiap kali mereka meninggalkan gua dan menghadapi
musuh, harimau bergigi bak pedang. Harimau tersebut kini sudah punah, tapi
mereka kini digantikan oleh predator lain yaitu kelebihan beban kerja, atasan
yang crewet, masalah komputer, tenggat waktu, penurunan jumlah pegawai, merger,
pekerjaan yang dirancang dengan buruk, ketidakharmonisan pernikahan, krisis
keuangan dan tingkat perubahan yang cepat. Predator ditempat kerja dan diluar
tempat kerja ini berinteraksi dan menciptakan stres bagi individu didalam
maupun diluar pekerjaan.[3]
RUMUSAN MASALAH
TUJUAN
Pembuatan
makalah ini bertujuan guna melengkapi tugas prasyarat UTS mata kuliah manajemen
sumber daya manusia. Juga guna mengetahui sperti apa stres kerja dan menambah pemahaman
bagaiman menghadapi stres kerja dan menjaga fikiran dalam keadaan sibuk kerja.
Bagaimana pula memotivasi diri dalam bekerja sehingga tidak mengakibatkan stres
yang berkelanjutan.
BAB
II
PEMBAHASAN
Stres
secara sederhana didefinisikan sebagai memburuknya keadaan emosi dan fisik
dalam hidup. Stres bisa dianggap sebagai respon tubuh anda terhadap hidup anda
sendiri.[4]
Stres
memiliki banyak pengertian. Dari perspektif orang biasa, stres dapat
digambarkan sebagai perasaan tegang, gelisah, atau khawatir. Secara ilmiah, semua
perasaan ini merupakan manifestasi dari pengalaman stres, suatu respon
terprogram yang kompleks untuk mempersepsikan ancaman yang dapat menimbulkan
hasil positif maupun negatif. Istilah stres sendiri telah didefinisikan secara
harfiah dalam berbagai literatur. Akan tetapi hampir semua definisi ini dapat
ditemmpatkan kedalam dua kategori, stres dapat didefinisikan sebagai suatu
stimulus atau suatu respon.
Definisi
stres sebagai suatu stimulus menganggap stres sebagai sejumlah karakteristik
atau peristiwa yang mungkin menghasilkan konsekuensi yang tidak beraturan.
Dalam hal ini, definisi tersebut merupakan definisi teknik dan stres, dipinjam
dari ilmu fisika. Dalam ilmu fisika stres merajuk dalam kekuatan luar yang diaplikasikan
dalam suatu objek, sebagai contoh, sebuah balok penopang jembatan. Responnya
adalah “tegangan”, yang merupakan dampak dari kekuatan tersebut terhadap balok
penopang jembatan.
Dalam
definisi stres sebagai suatu respon, stres dilihat secara sebagian sebagai
suatu respon terhadap sejumlah stimulus, yang disebut stressor. Sebuah stressor merupakan
peristiwa atau situasi eksternal yang secara potensial mengancam atau
berbahaya. Akan tetapi, stres lebih dari hanya sekedar sebuah respon terhadap
suatu stressor. Dalam definisi
respon, stres merupakan konsekuensi dari interaksi antara suatu stimulus
lingkungan (suatu stressor) dan
respon individual. Ini berarti, stres merupakan situasi unik antara kondisi
stimulus dalam lingkungan dan cara individu untuk merespon dengan cara
tertentu. Dengan menggunakan definisi respons, stres akan didefinisikan
sebagai :
Stres juga dapat
dipahami sebagai suatu respon adaptif, dimoderasi oleh perbedaan individu, yang
merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan, situasi atau peristiwa dan
yang menempatkan tuntutan khusus terhadap seseorang.[5]
Ada
baiknya untuk memandang stres sebagai suatu respon yang dibuat seseorang dan
untuk mengidentifikasikan kondisi stimulus (tindakan, situasi, peristiwa)
sebagai stressor.
Dalam
konteks definisi mengenai stres, penting untuk dipahami bahwa stres merupakan
hasil yang diperoleh dalam menangani sesuatu yang memberikan tuntutan khusus
kepada kita. Khusus disisni berarti tidak biasa, secara fisik atau psikologis
berarti mengancam, atau serangkaian pengalaman yang ebrada diluar pengalaman
kita yang biasa. Memulai tugas pekerjaan yang baru, pergantian atasan,
mengalami ban kempis, tertinggal pesawat, membuat kesalahana ditempat kerja,
mengadakan pertemuan evaluasi kerja dengan atasan, semua ini merupakan
tindakan, situasi atau peristiwa yang memberikan tuntutan khusus untuk anda.
Dalam hal ini, mereka semua adalah stressor potensial. Dikatakan potensial
karebna tidak semua stressor akan selalu menempatkan tuntutan yang sama untuk
semua orang.
Agar
suatu tindakan, situasi, atau peristiwa dapat menghasilkan stres, hal tersebut
harus dipersepsikan oleh individu sebagai sumber ancaman, tantangan, dan
bahaya. Jika tidak terdapat konsekuensi yang dipersepsikan tersebut, baik atau
buruk, tidak terdapat potensi untuk terjadi stres. Tiga faktor menentukan
apakah suatu pengalaman akan menghasilkan stres. Ketiga faktor tersebut
diantaranya kepentingan, ketidakpastian, dan durasi. Kepentingan
dikaitkan dengan seberapa signifikan peristiwa tersebut bagi individu. Sebagai
contoh, anggaplah anda sedang menghadapi PHK. Semakin signifikan PHK bagi anda,
semakin PHK tersebut membuat anda stres. Jika anda berekspetasi bahwa PHK
tersebut diikuti oleh suatu periode pengangguran yang cukup lama, anda mungkin
akan menganggapnya sebagai peristiwa yang lebih penting daripada jika
penerimaan kerja kembali pasti akan datang.
Ketidakpastian
merujuk pada kurangnya kejelasan mengenai apa yang akan terjadi. Isu mengenai
PHK yang akan terjadi mungkin akan menjadi hal; yang lebih menegangkan bagi
beberapa orang, daripada mengetahui dengan pasti bahwa mereka akan
diberhentikan. Setidaknya pada kasus yang terakhir, mereka dapat membuat
rencana untuk menghadapi situasi yang akan terjadi. Sering kali “tidak
mengetahui” menempatkan tuntutan yang lebih besar pada orang daripada yang
“mengetahui”, bahkan jika hasil yang diketahui dianggap negatif.
Terakhir,
durasi merupakan suatu faktor yang signifikan. Secara umum semakin lama
tuntutan khusus tersebut ditempatkan kepada kita, situasi tersebut semakin
menimbulakn stres. Sebuah tugas perusahaan yang tidak disukai yang hanya
berlangsung selama satu sampai dua hari mungkin mengesalkan, tapi jika tugas
yang sama berlangsung selama enam bulan, hal tersebut akan menjadi hal yang
paling menyakitkan. Sebagian orang dapat bertahan melakukan aktivitas fisik
yang menegangkan tanpa merasa lelah : akan tetapi cobalah panjangkan durasi,
dan bahkan orang yang paling fit pun pasti akan merasa kelelahan. Hal yang sama
juga berlaku bagi stressor. Stres untuk durasi yang singkat biasanya disebut
sebagai sttres akut. Hal tersebut mungkin hanya terjadi selama beberapa detik,
beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Stres yang berdurasi panjang terkadang
disebut sebagai stres kronis. Stres kronis mungkin terjadi seklama beberapa
bulan atau beberapa tahun. Hal tersebut merupakan tekanan yang melelahkan ada
pekerjaan dimana seseorang tidak menemukan kepuasan dalam pekerjaannya,
tuntutan konstan yang dibebankan oleh atasan yang tidak masukl akal, atau
perjuangan tanpa akhir dalam pilihan karir seseorang.[6]
Stresor
adalah kondisi yang memicu stres pada orang, ada stresor kerja dan stresor
bukan kerja. Selain itu, ada beberapa kategori yang berbeda pada masing-masing
jenis stresor tersebut.
Orang
yang berkelainan menghadapi stresor dengan cara yang berbeda pula. Dan,
interpretasi orangf yang bersangkutanmerupakan kuncinya. Cara anda menanggapi
dunia anda yang menentukan bagaimana anda bereaksi terhadap stres. Sesuatu yang
membuat stres seseorang belum tentu membuat stres orang lain.
STRESSOR
KERJA
Stressor
kerja meliputi kategori sebagai berikut.
Tuntutan tugas berkisar pada pekerjaan
itu sendiri yang meliputi perubahan dan ketidakpastian bagi para pekerja. Kalau
orang mer5asa tidak punya kendali atas apa yang dikerjakannya, mereka mengalami
stres. Terlalu banyak tuntutan, kesempatan kerja yang semakin sempit di masa
depan, dan diperkenalkannya teknologi baru bisa menimbulkan stres.
Contoh-contoh tuntutan tugas bisa berupa keharusan akan pengambilan keputusan
yang cepat atau serius dengan konsekuensi besar.[7]
|
Pekerja yang punya sedikit sekali kendali atas
pekerjaan mereka dan beban kerja yang berat lebih sering mengalami serangan
jantung.
|
STRESSOR
BUKAN KERJA
Tuntutan
bukan kerja dapat mempengaruhi pekerjaan dan menyebabkan turunnya tingkat
prestasi kerja. Para pekerja yang perasaannya tidak benar-benar meninggalkan
rumah seperti berada ditengah-tengah pintu sewaktu sampai ditempat kerja.
Tuntutan zaman sekarang bahkan lebih membuat stres pada para pekerja.
Dua
diantara stressor bukan kerja yang paling utama diantaranya masalah pengasuhan
anak dan orang tua yang manula. Istilah “generasi sandwich” digunakan untuk
menyebut pekerja yang sekarang terjepit diantara orang tua mereka dan kebutuhan
pengasuhan anak-anak mereka.
Memadukan
tuntutan kerja dan bukan kerja penting sekali untuk mengurangi tingkat stres,
dan penting sekali bagi prestasi kerja individu-individu di tempat kerja. Kesesuaian
ini penting sekali. Semakin banyak organisasi mengetahui mereka memikul
tanggung jawab dalam membantu para pekerja mereka menyeimbangkan
masalah-masalah tersebut, karena hal itu berpengaruh langsung pada perusahaan.[8]
Konsekuensi
individual dari stres
Ada
dua jenis stres : eustres dan distres. Eustres adalah stres [positif yang
menyebabkan meningkatnya kekuatan fisik. Mendapatkan kenaikan pangkat adalah
contoh eustres. Distres merupakan stres negatif yang dapat menimbulkan masalah
perilaku, masalah psikologis dan sakit jasmani. Distres ini bersifat
disfungsional.
Orang
membutuhkan sejumlah stres dalam hidupnya. Terlalu banyak atau terlalu sedikit
stres mengakibatkan tingkah laku lamban dan kurang bersemangat dengan tingkat
kinerja yang buruk. Setiap orang membutuhkan sejumlah stres agar dapat bekerja
pada tingkat kinerja puncak. Ada dorongan energi pada tingkatan stres yang
optimal.
|
Definition
Karoshi adalah istilah bahasa jepang yang artinya mati
karena kebanyakan kerja. Ini merupakan contoh klasik distres kecanduan /
kebanyakan kerja (workaholic)
|
|
STRESSOR
|
|
HASIL
|
|
Tingkat kelompok
·
Perilaku manajerial
·
Kurangnya kohesivitas
·
Konflik intrakelompok
·
Status tidak sesuai
|
|
Tingkat individu
·
Konflik peran
·
Kelbihan beban peran
·
Ketidakjelasan peran
·
Tanggung jawab atas
orang
·
Pelecehan
·
Kecepatan perubahan
|
|
Nonpekerjaan
·
Perawatan orang lanjut
usia dan anak
·
Ekonomi
·
Kurangnya mobilitas
·
Pekerjaan sukarela
·
Kualitas kehidupan
|
|
Tingkat
organisasi
·
Budaya
·
Teknologi
·
Gaya manajemen
·
Rancangan organisasi
·
politik
|
|
Perilaku
·
Kepuasan
·
Kinerja
·
Absen
·
Perputaran pekerja
·
Kecelakaan
·
Penyalahgunaan obat
·
Klaim perawatan
kesehatan
|
|
Kognitif
·
Pengambilan keputusan
yang buruk
·
Kurangnya konsentrasi
·
Lupa
·
Frustasi
·
Apatis
|
|
Fisiologis
·
Tekanan darah yang
meningkat
·
Sistem kekebalan
·
Kolesterol tinggi
·
Penyakit jantung
koroner
·
Sistem pencernaan
|
|
STRES
|
Penyakit psikologis
akibat kerja menempati tempat teratas pada masalah kesehatan dewasa ini.
Depresi dan stres berat bisa mengakibatkan berkurangnya efesiensi, hilangnya
minat kerja dan kelelahan. Gangguan tidur telah menjadi masalah gawat yang
langsung tidak langsung telah merugikan perusahaan.
Depresi menempati
urutan kedua diantara penyakit yang melumpuhkan para pekerja. Sepuluh persen
dari pekerja amerika menderita depresi klinis, dan jumlah ini diperkirakan akan
naik.
Stres diperkirakan
memainkan peranan 70% dari penyakit fisik. Penyakit terkait dengan stres
diantaranya meliputi:
Masalah
perilaku seperti kekerasan, penyalahgunaan bahan-bahan terlarang, dan
kecelakaan dapat merugikan individu, organisasi serta kinerjanya. Kekerasan
bisa berupa konflik fisik dan konflik antarpribadi. Penggunaan bahan-bahan
terlarang seperti mengonsumsi alkohol, tembakau, obat-obatan dengan resep,
ataupun obat-obatan terlarang. Bila orang terlalu terobsesi atau bingung,
kecelakaan juga bisa terjadi.
Orang
merespon dengan sangat berbeda terhadap stresor. Sesuatu yang merupakan stresor
pada satu orang yang belum tentu menjadi stresor bagi orang lain. Perbedaan
individual mempunyai dampak pada respon kita terhadap stresor. Salah satu dari
perbedaan yang terbesar yaitu kepribadian.[10]
Akibat-akibat
stress pada organisasi
Bila anda dan organisasi anda gagal
dalam mengelola stres, anda bisa mengalami keadaan sebagai berikut:
Mengenali
Tanda – Tanda Stres Pada Karyawan
Sebagai seorang manajer
seharusnya waspada akan tanda – tanda stres pada bawahan. Salah satu indikator
adalah perubahan perilaku. Beberapa dari banyak perubahan yang umum meliputi:
§ Seorang
pekerja yang biasanya tepat waktu mengembangkan pola keterlambatan ( atau
seorang pekerja yang biasanya dapat diandalkan mengembangkan pola absen ).
§ Seorang
pekerja yang normalnya penggembira menjadi menarik diri ( atau yang jarang
terjadi seorang penyendiri menjadi bergaul )
§ Seorang
karyawan yang biasanya bekerja rapi dan teliti melakukan pekerjaan yang kotor,
tidak lengkap, atau jorok.
§ Seorang
pengambil keputusan yang baim tiba-tiba menjadi pengambil keputusan yang buruk
( atau tampak tidak mampu mengambil keputusan )
§ Seorang
karyawan yang mudah bergaul dan cepat akur dengan yang lain mebnjadi cepat
tersinggung dan tidak sopan.
§ Seorang
karyawan yang biasanya berpenampilan rapi mengabaikan penampilannya.[11]
MANAJEMEN
STRES
Manajemen
stres preventif merupakan tanggung jawab bersama antara organisasi dan
individu. Manajemen seperti ini bisa dianggap sebagai obat penccegah penyakit.
Tiga tahap manajemen stres preventif pada organisasi maupun individu yaitu :
Ð Tahap
pertama : pencegahan utama
Ð Tahap
kedua : pencegahan sekunder
Ð Tahap
ketiga : pencegahan tersier
Pencegahan
Utama
Pencegahan
utama yang dilakukan organisasi menitikberatkan pada usaha menghilangkan atau
mengurangi sumber stres. Usaha ini mencangkup perencanaan ulang dan manajemen
karier. Kedua usaha ini memperbaiki kendali individu atas pekerjaannya dan
mengurangi ketidakpastian.
Pencegahan
individual memusatkan perhatian pada cara anda mengelola stres. Pencegahan
utama meliputi optimisme, manajemen waktu dan kegiatan rekreasi. Dalam perjalanan waktu anda belajar berpikir
optimis maupun pesimis. Anda harus belajar berpikir optimis dan memandang
pengalaman buruk terjadi hanya sementara waktu saja agar punya harapan. Kalau
anda berpandangan positif, biasanya anda akan banyak humoor dan lebih banyak
tertawa. Kedua perilaku ini penting dalam menghadapi stres.
|
Orang-orang yang
memiliki harga diri yang tinggi mempunyai respon yang lebih baik terhadap
stres. Mereka yang mempunyai percaya diri tinggi cenderung lebih mudah
dalam menghadapi stres dan punya keyakinan sehingga bisa menghadapi
hambatan-hambatan dengan lebih mudah.
|
Pencegahan
Sekunder
Pencegahan
sekunder mencakup penyesuaian respon terhadap stresor. Salah satu contoh yang
bagus dari pencegahan kedua ini yaitu pembentukan tim (team-building).
Pencegahan
sekunder bisa berupa olahraga, latihan relaksasi dan berdiet. Berolahraga harus
mencangkup latihan aerobic (membantu anda agar cepat pulih dari peristiwa yang
membuat anda stres) dan latihan fleksibilitas (meregangkan otot untuk
mengurangi ketegangan otot). Berolahraga juga cenderung membuat orang lebih
percaya diri dan memperbaiki sikap batin mereka. Orang yang berolahraga juga
cenderung tidak mudah sakit karena penyakit biasa dan bahkan lebih sedikit
absen dari kerja. Berolahraga memperbaiki tekanan darah dan kolesterol dan
bahkam memperbaiki elastisitas pembuluh darah.
Latihan
relaksasi merupakan lawan dari respon stres. Relaksasi membuat orang lebih
mampu beradaptasi dengan stres. Di tempat kerja, relaksasi mengarahkan segala
perasaan dari liburan rutin ke istirahat total. Teknik relaksasi yang biasa
dilakukan yaitu, pijatan pada otot dan pernafasan dada. Pernafasan dada, yaitu
mengambil nafas panjang dan dalam. Latihan ini bisa dilakukan dimana saja dan
kapan saja untuk memperoleh efek yang menenangkan. Kunci dari relaksasi, yaitu mencari tempat suasana yang tenang dan
nyaman.
Pencegahan
Tersier
Fokus
dari pencegahan tersier ini, yaitu terapi untuk menyembuhkan gejala-gejala yang
timbul. Organisasi bisa memberi bantuan melalui program bantuan untuk pegawai.
Konseling bisa membantu menyembuhkan pengaruh stres.
Membuka
diri dan mencari bantuan dari ahli merupakan bagian dari pencegahan tersier.
Membuka diri berarti berbagi peristiwa penyebab stres dengan orang lain. Bahkan
lebih membantu lagi bila anda berbagi pikiran dan perasaan dalam buku harian
atau jurnal.
Bantuan
ahli merupakan bantuan penyembuhan yang meliputi konsultasi dengan konselor
ahli, psikiater atau bahkan bergabung dengan kelompok self-help yang profesional.
|
Program bantuan karyawan
(employee assistance program [EAP] tersedia disebagian besar organisasi
untuk merujuk karyawan kepada para ahli yang bisa membantu. Departmen
sumber daya manusia bisa memberi rincian program tersebut kepada anda.
|
Program Pencegahan
Stres
Program pencegahan stres disusun untuk
mengurangi kesedihan. Tujuannya menjaga agar orang tetap bahagia dan sehat.
Diharapkan program ini akan menghasilkan organisasi yang produktif.
Beberapa
dari program pencegahan stres yang umum, diantaranya :
¥ Penetapan tujuan
: program ini mengurangi ketidakjelasan dan memberi para karyawan sebagian
kendali jika digunakan sebagai penetapan bersama.
¥ Negosiasi peran :
dalam negosiasi peran, pengharapan diperjelas dan disesuaikan.
¥ Sistem dukungan
sosial : program ini menitikberatkan pada pemeliharaan
emosi dan timbal balik dari orang lain.
|
Dukungan sosial dapat diperoleh dari orang lain
seperti kolega, supervisor, bawahan, pasangan hidup, orang tua,
teman-teman, kelompok pendukung, klub sosial, asosiasi bisnis, dan dokter.
|
Penerapan tujuan bisa mengurangi tingkat
stres dengan mengidentifikasi tujuan-tujuan yang jelas. Terutama bila manajer
dan karyawan bersama-sama menetapkan tujuan, maka ada persetujuan dan visi yang
jelas tentang apa yang harus dicapai. Pada umumnya, tujuan tersebut juga
mencangkup kerangka waktu untuk pencapaiannya.
Menegosiasikan peran dapat membantu
mengurangi stres dengan menghilangkan sebagian ketidakjelasan. Negosiasi peran,
yaitu mengidentifikasi pengharapan dengan jelas. Stres terkurangi bila anda
tahu apa yang diharapkan orang lain (dan juga apa yang anda harapkan dari orang
lain)
CARA MENGENALI STRES
PADA ORANG LAIN
Penting sekali untuk dapat mengenali
stres yang terjadi pada orang lain. Dengan semakin meningkatnya kekerasan
ditempat kerja, penting sekali untuk dapat mengenali stres pada orang lain.
Sebagai aturan dasar, cari adanya pereubahan dari keadaan normalbagi seorang
individu.
Sementara beberapa orang mungkin
menunjukkan stres dalam beberapa macam cara, beberapa dari tanda-tanda stres
yaitu:[13]
® Kelelahan
dan tenaga yang lemah
® Ketidakmampuan
berkonsentrasi
® Pertahanan
yang lemah terhadap penyakit
® Kecemasan
® Gangguan
makan kompulsif (ngemil)
® Kebiasaan
kerja yang berbeda
® Sikap
yang berubah-ubah (murung)
® Perilaku
yang bermusuhan
® Kekerasan
® Depresi
® Gangguan
jantung
® Kekhawatiran
yang kronis
Bagaimanapun banyak tanda stres yang
tidak dapat terlihat oleh mata. Seperti tidak dapat melihat tekanan darah,
detak jantung ataupun gangguan pencernaan.
Sebagai manajer, harus dapat mengelola
stres dengan baik. Pertimbangan beberapa kiat umum dibawah ini dalam mengelola
stres bagi diri anda dan orang lain.
» Tinjau kembali
beban kerja : menuntut terlalu banyak dari pegawai
bisa menimbulkan stres dan akhirnya menurunkan tingkat prestasi.
» Hilangkan dilema
etika bila mungkin : kalau nilai-nilai dan etika pegawai
jauh lebih sepadan dengan nilai-nilai dan etika anda, maka kemungkinan stres
bisa dikurangi.
» Ciptakan
pekerjaan yang menarik bagi karyawan : pekerjaan yang rutin
dan membosankan sering membuat stres.
» Sadari bahwa
stres berbeda bagi setiap orang : hanya karena keadaan
tertentu tidak menyebabkan stres bagi atasan, tidak berarti keadaan tersebut
tidak mengakibatkan stres pada bawahan. Amati tanda-tansda stres dan berpikiran
terbukalah.
» Sadari bahwa ada
kehidupan (dan juga stresor) di luar pekerjaan
: sebagian dari tanggung jawab manager, yaitu membantu para pegawai
menyumbangkan masalah kerja dan bukan kerja (termasuk stresor). Stresor bukan
kerja bisa mempengaruhi prestasi pegawai pada pekerjaan. Kebijakan yang
mendukung keluarga (seperti jadwal yang luwes) meningkatkan kendali bagi para
individu. Sebagai hasilnya, konflik yang dialami antara kerja dan keluarga
semakin berkurang.
» Libatkan
karyawan dalam perubahan : ketidakpastian dan sesuatu yang
tidak diketahui bisa menimbulkan stres. Melibatkan orang-orang dalam perubahan
yang akan berdampak pada mereka bisa membantu mengurangi stres tersebut.
» Dorong karyawan
agar mempunyai gaya hidup yang lebih sehat : sekarang
banyak organisasi di Amerika yang memberi insentif bagi karyawan agar
menurunkan berat badan atau berhenti merokok. Semakin banyak pusat kebugaran
dibangun ditempat kerja agar karyawan lebih sehat.
» Beri contoh yang
bagus : jadilah manajer yang teladan dalam pencegahan
stres.
»
|
Tidur siang sebentar (dikenal dengan istilah power napping)
adalah cara baru yang sekarang ini banyak dipakai di oraganisasi di
Amerika. Selain membantu mencegah kekurangan tidur pada banyak pegawai,
power napping juga berfungsi sebagai metode relaksasi. Para karyawan juga
kembali ke kantor mereka dengan keadaan lebih segar dan berfikir lebih
jernih.
|
» Pelajari tempat
stressor : anda hanya bisa membantu mengatasi stressor yang
anda ketahui keberadaannya. Ubah suasana dan lingkungan bila memungkinkan untuk
menghilangkan stresor yang tidak diperlukan.
» Kembangkan suasana
yang mendukung : suasana yang tidak begitu formal lebih
mendukung. Birokrasi yang formal dan kaku lebih cenderung menimbulkan lebih
banyak stres.
» Gunakan
perencanaan karier : rencana aksi karier memungkinkan
karyawan untuk mengetahui langkah mereka selanjutnya sehingga mengurangi
ketidakpastian tentang masa depan yang bisa menyebabkan stres.[14]
KETERKAITAN ANTARA
STRES KERJA DENGAN MOTIVASI KERJA
Motivasi merupakan salah satu cara
mencegah agar karyawan tidak mengalami stres kerja. Motivasi merupakan suatu
bentuk kepedulian organisasi kepada karyawannya. Sehingga karyawan dapat merasa
diakui dan giat bekerja tanpa harus mengalami stres.
Keamanan Kerja
Karyawan
yang memiliki keamana kerja dapat menjadi lebih termotivasi untuk berkinerja
dengan baik. Mereka kemungkinan kecil akan terganggu pekerjaannya karena
berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih aman.
Contoh
: ketika perekonomian AS yang melemah menurunkan permintaan akan barang dan
jasa yang dihasilkan oleh perusahaan AS, perusahaan –perusahaan ini tidak dapat
mempertahankan seluruh karyawannya. Bahkan ketika perekonomian menguat,
beberapa perusahaan ditekan utuk mengurangi karyawan guna menurunkan beban.
Perusahaan dapat memberikan keamanan kerja yang lebih
baik dengan melatih karyawan untuk menangani berbagai tugas sehingga mereka
dapat ditugaskan kebagian lain jika posisi mereka sekarang tidak lagi
dibutuhkan. Meskipun demikian, perusahaan kemungkinan tidak membuka lowongan
kerja kemana karyawan tersebut ditugaskan kembali. Lebih lanjut, lowongan kerja
tersebut mungkin jauh berbeda sehingga penugasan kembali menjadi tidak mungkin.
Jadwal Kerja yang
Fleksibel
Metode
lain untuk meningkatkan kepuasan kerja adalah dengan menerapkan program yang memungkinkan jadwal kerja yang
lebih fleksibel. Beberapa perusahaan telah melakuan eksperimen dengan minggu
kerja yang padat, yaitu memadatkan beban kerja kedalam jumlah hari yang lebih
sedikit perminggunya. Umumnya, minggunya kerja yeng terdiri dari 5 hari kerja
dengan 8 jam kerja per hari dipadatkan menjadi 4 hari kerja dengan 10 jam kerja
perhari. Tujuan utama dari jadwal ini adalah untuk memungkinkan karyawan
memiliki tiga hari libur dalam seminggu. Ketika karyawan memperoleh jadwal
kerja yang diinginkan , mereka menjadi lebih termotivasi untuk berkinerja
dengan baik.
Bentuk lain dari jadwal kerja yang fleksibel adalah
berbagi pekerjaan dimanaa dua orang atau lebih berbagi jadwal kerja tertentu.
Misalnya saja, suatu perusahaan yang membutuhkan karyawan yang bekerj a40 jam
seminggu untuk bagian pengantaran dapat memperkerjakan 2 orang untuk berbagi
posisi tersebut. Hal ini memungkinkan karyawan, untuk bekerja paruh waktu dan
menunaikan kewajiban lainnya seperti sekolah, atau keluarga.
Jadwal kerja yang fleksibel menjadi semakin populer,
terutama untuk karyawan yang memiliki komitmen waktu tertentu yang melibatkan
anak-anak mereka seperti datang kesekolah atau kegiatan sosial. Teknologi
memungkinkan banyak karyawan untuk menghandiri kegiatan-kegiatan ini dan masih
bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus berada di kantor. Misalnya, mereka
dapat mengaksesdata atau informasi yang telah dimutakhirkan mengenai
pekerjaanya melalui situs web bisnis khusus yang dapat diakses oleh karyawan.
Mereka dapat memperoleh e-mail bisnis mereka dan dapat diteruskan alamat e-mail
di rumah atau ke alamat lain yang sudah diakses sementara mereka berada jauh
dari kantor. Mereka dapat membawa telpon seluler untuk komunikasi yang diperlukan yang tidak
dapat ditangani melalui e-mail. Teknologi juga memberikan lebih banyak waktu dengan
keluarga kepada sebagian karyawan dengan memungkinkan mereka untuk tidak datang
ke kantor pada hari tertentu.
Telecomuniting
pendekatan
terhadap tatanan kerja alternatif yang relatif baru. Memungkinkan karyawan
menghabiskan sebagian waktu kerja mereka di luar kantor. Dengan menggunakan
e-mail, internet, dan bentuk teknologi informasi.
Motivasi Dalam
Perspektif Islam
Agama
Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan
bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja
melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang
berkenaan dengan kerja.
Rasulullah
SAW bersabda: “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya,
dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” Dalam
ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan
di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang
kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah. Allah menyukai mukmin yang kuat
bekerja.” Nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru
berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi.
Begitu juga dalam hal sebuah
organisasi atau perusahaan dalam menjaga kinerja para karyawan agar tetap
semangat dan selalu produktif. Ada hak-hal yang diatur dalam agama tentang
perlakuan terhadap nyawa dari organisasi ini.
Pengupahan yang Adil
dan Layak
$ygr'¯»t
úïÏ%©!$#
(#þqãYtB#uä
(#qèù÷rr&
Ïqà)ãèø9$$Î/
4 ôM¯=Ïmé&
Nä3s9
èpyJÍku5
ÉO»yè÷RF{$#
wÎ)
$tB
4n=÷Fã
öNä3øn=tæ
uöxî
Ìj?ÏtèC
Ïø¢Á9$#
öNçFRr&ur
îPããm
3 ¨bÎ)
©!$#
ãNä3øts
$tB
ßÌã
ÇÊÈ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah
aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan
kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu
sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang
dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah : 1)
Kemudian dalam sabda Rasulullah SAW
:
“Berikanlah gaji kepada pekerja
sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa
yang dikerjakan”. (HR.
Baihaqi).
Dari ayat
Al-Qur’an dan hadits riwayat Baihaqi di atas, dapat diketahui bahwa prinsip
utama keadilan terletak pada kejelasan
aqad (transaksi) dan komitmen melakukannya. Aqad dalam perburuhan
adalah aqad yang terjadi antara pekerja dengan pengusaha. Artinya,
sebelum pekerja dipekerjakan, harus jelas dahulu bagaimana upah yang akan
diterima oleh pekerja. Upah tersebut meliputi besarnya upah dan tata cara
pembayaran upah. Khusus untuk cara pembayaran upah, Rasulullah bersabda :
“Dari Abdillah bin Umar, Rasulullah
Saw. Bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya“. (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani)
Dalam
menjelaskan hadits itu, Syeikh Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Pesan Nilai dan
Moral dalam Perekonomian Islam, menjelaskan sebagai berikut :
Sesungguhnya
seorang pekerja hanya berhak atas upahnya jika ia telah menunaikan pekerjaannya
dengan semestinya dan sesuai dengan kesepakatan, karena umat Islam terikat
dengan syarat-syarat antar mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal
atau menghalalkan yang haram. Namun, jika ia membolos bekerja tanpa
alasan yang benar atau sengaja menunaikannya dengan tidak semestinya, maka
sepatutnya hal itu diperhitungkan atasnya (dipotong upahnya) karena setiap hak
dibarengi dengan kewajiban. Selama ia mendapatkan upah secara
penuh, maka kewajibannya juga harus dipenuhi. Sepatutnya hal ini
dijelaskan secara detail dalam “peraturan kerja” yang menjelaskan masing-masing
hak dan kewajiban kedua belah pihak.
Memperkuat Ukhuwah dan Hubungan Sosial
Diantaranya
menjaga hubungan erat antar anggota. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. :
“Seorang
muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan menzaliminya dan tidak
akan membiarkannya binasa...” (HR. Muttafaq ‘alaih).
Menjaga
hubungan yang baik antar anggota akan menciptakan suasana keakraban dan
kehangatan yang pada akhirnya mereka akan merasa nyaman bekerja di perusahaan.
Dan pada akhirnya, mereka bekerja dengan bauk, penuh semangat, dan punya
loyalitas yang tinngi
Dalam
Al-qur’an dijelaskan pula bahwa motivasi itu penting. Yaitu:
ô`tBur
ß`|¡ômr&
Zwöqs%
`£JÏiB
!%tæy
n<Î)
«!$#
@ÏJtãur
$[sÎ=»|¹
tA$s%ur
ÓÍ_¯RÎ)
z`ÏB
tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$#
ÇÌÌÈ
Siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan
berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
(Fushilat :33)
Dan dalam hadist juga dijelaskan: “Sampaikanlah
walau satu ayat”. Ini menunjukkan pentingnya menyampaikan hal-hal yang
bail. Karena kita tahu, bahwa perkataan yang baik akan membawa dampak psikis
yang baik.
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
w (#q=ÏtéB
uȵ¯»yèx©
«!$#
wur
tök¤¶9$#
tP#tptø:$#
wur
yôolù;$#
wur
yÍ´¯»n=s)ø9$#
Iwur
tûüÏiB!#uä
|Møt7ø9$#
tP#tptø:$#
tbqäótGö6t
WxôÒsù
`ÏiB
öNÍkÍh5§
$ZRºuqôÊÍur
4 #sÎ)ur
÷Läêù=n=ym
(#rß$sÜô¹$$sù
4 wur
öNä3¨ZtBÌøgs
ãb$t«oYx©
BQöqs%
br&
öNà2r|¹
Ç`tã
ÏÉfó¡yJø9$#
ÏQ#tptø:$#
br&
(#rßtG÷ès?
¢ (#qçRur$yès?ur
n?tã
ÎhÉ9ø9$#
3uqø)G9$#ur
( wur
(#qçRur$yès?
n?tã
ÉOøOM}$#
Èbºurôãèø9$#ur
4 (#qà)¨?$#ur
©!$#
( ¨bÎ)
©!$#
ßÏx©
É>$s)Ïèø9$#
ÇËÈ
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan
binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya
dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah
kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah
:2)
Meningkatkan Etos Kerja
Ethos berasal
dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta
keyakinan atas sesuatu. Sikap ini
tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat.
Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai
yang diyakininya. Dari kata etos ini dikenal pula kata etika yang hamper
mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik
buruk moral sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang
amat kuat untuk mengerjakan sesuati secara optimal lebih baik dan bahkan
berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.
ö@è%
ÉQöqs)»t
(#qè=yJôã$#
4n?tã
öNà6ÏGtR%s3tB
ÎoTÎ)
×@ÏB$tã
( t$öq|¡sù
cqßJn=÷ès?
`tB
Ücqä3s?
¼çms9
èpt7É)»tã
Í#¤$!$#
3 ¼çm¯RÎ)
w ßxÎ=øÿã
cqßJÎ=»©à9$#
ÇÊÌÎÈ
Katakanlah: "Hai kaumku,
berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu
akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik
di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan
keberuntungan.
(Al-An’am 135)
Kerja dalam
pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam
hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang
berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan. Kamus besar bahasa
Indonesia susunan WJS Poerdarminta mengemukakan bahwa kerja adalah perbuatan
melakukan sesuatu. Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari
nafkah. KH. Toto Tasmara mendefinisikan makan dan bekerja bagi seorang muslim
adalah suatu upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh asset dan
zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba
Allah yang menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari
masyarakat yang terbaik atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa dengan
bekerja manusia memanusiakan dirinya.
Lebih lanjut
dikatakan bekerja adalah aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi
kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya
tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang
optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Stres
secara sederhana didefinisikan sebagai memburuknya keadaan emosi dan fisik
dalam hidup. Stres bisa dianggap sebagai respon tubuh anda terhadap hidup anda
sendiri.
Stres
memiliki banyak pengertian. Dari perspektif orang biasa, stres dapat digambarkan
sebagai perasaan tegang, gelisah, atau khawatir. Secara ilmiah, semua perasaan
ini merupakan manifestasi dari pengalaman stres, suatu respon terprogram yang
kompleks untuk mempersepsikan ancaman yang dapat menimbulkan hasil positif
maupun negatif. Istilah stres sendiri telah didefinisikan secara harfiah dalam
berbagai literatur. Akan tetapi hampir semua definisi ini dapat ditemmpatkan
kedalam dua kategori, stres dapat didefinisikan sebagai suatu stimulus atau
suatu respon.
Definisi
stres sebagai suatu stimulus menganggap stres sebagai sejumlah karakteristik
atau peristiwa yang mungkin menghasilkan konsekuensi yang tidak beraturan.
Dalam hal ini, definisi tersebut merupakan definisi teknik dan stres, dipinjam
dari ilmu fisika. Dalam ilmu fisika stres merajuk dalam kekuatan luar yang
diaplikasikan dalam suatu objek, sebagai contoh, sebuah balok penopang
jembatan. Responnya adalah “tegangan”, yang merupakan dampak dari kekuatan
tersebut terhadap balok penopang jembatan.
DAFTAR PUSTAKA
Buhler,
Patricia. 2007, Management Skill. Alpha Teach Yourself : Jakarta
Dessler,
Gary. 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia. PT. Indeks : Jakarta
Pace,
R.Wayne & Faules, Don F. 2002, Komunikasi Organisasi : Bandung
Schuler
, Randall S & Jackson, Susan E. 1996, Manajemen Sumber Daya Manusia. PT.
Gelora Aksara Pratama : Jakarta
Maslow,
Abraham H. 1993, Motivasi dan Kepribadian. PT. Midas Surya Grafindo : Jakarta
Ivancevich,
John M dkk. 2006, Perilaku dan Manajemen Organisasi. PT. Gelora Aksara Pratama
: Jakarta
Al-Qur’an dan
Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, Departemen Agama RI
Handoko Hani T., 2003. Manajemen ,Edisi
2. Yogyakarta: BPFE.
Pierce Jon L, John W. Newstrom. 2005. The
Manager’s Bookshelf, Edisi Kelima. Jakarta:
PT Intan Sejati Klaten.
Mannulang, M dkk. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Pertama.
Yogyakarta: BPFE
Flippo Edwin B. 1984. Manajemen Personalia,
Edisi
Keenam. Jakarta :
Erlangga
[1] R. Wayne
Pace & Don F. Faules, Komunikasi Organisasi 2002. Hal.342
[2] Patricia
Buhler, Management Skill2007. Hal 362
[3] John M.
Ivancevich, Robert Konopaske & Michael T. Matteson. Perilaku dan Manajemen
Organisasi 2006. Hal 294
[4] Patricia
Buhler, Management Skill2007. Hal 363
[5] John M.
Ivancevich, Robert Konopaske & Michael T. Matteson. Perilaku dan Manajemen
Organisasi 2006. Hal 295
[6]John M.
Ivancevich, Robert Konopaske & Michael T. Matteson. Perilaku dan Manajemen
Organisasi 2006. Hal 295
[7] Patricia
Buhler, Management Skill2007. Hal 364
[8] Patricia
Buhler, Management Skill2007. Hal 365
[9] John M.
Ivancevich, Robert Konopaske & Michael T. Matteson. Perilaku dan Manajemen
Organisasi 2006. Hal 297
[10]
Patricia Buhler, Management Skill2007. Hal 366
[11] John M.
Ivancevich, Robert Konopaske & Michael T. Matteson. Perilaku dan Manajemen
Organisasi 2006. Hal 299
[12]
Patricia Buhler, Management Skill2007. Hal 368
[13]
Patricia Buhler, Management Skill2007. Hal 372
[14]
Patricia Buhler, Management Skill2007. Hal 374
Langganan:
Postingan (Atom)






